Sementara itu, ikan baung dipilih karena merupakan spesies air tawar endemik yang populer di Riau dan memiliki nilai jual kompetitif di pasar tradisional.

Dalam proses pelepasliaran di lapangan, perusahaan tersebut turut melibatkan partisipasi warga pesisir sungai serta perangkat pemerintahan tingkat desa dan kecamatan setempat.

Keterlibatan masyarakat sejak tahap awal ini bertujuan untuk membangun sistem pengawasan lingkungan yang partisipatif dan menumbuhkan rasa kepemilikan warga terhadap kondisi sungai.

Dia berharap keberadaan bibit ikan itu mampu memotivasi masyarakat untuk merawat kualitas air dan secara kolektif menghindari metode tangkap ikan yang destruktif.

"Jika sungai dibiarkan sehat dan terawat, populasi baung dan nila tersebut dapat tumbuh dan memberikan manfaat langsung bagi ketahanan pangan maupun nilai tambah ekonomi masyarakat sekitar pada masa mendatang," kata Jatmiko.