NADIKABAR.COM β PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo menebar 60 ribu bibit ikan baung dan nila di 12 sungai wilayah Riau, Pulau Sumatera untuk memperkuat ekosistem perairan sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat sekitar.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan pihaknya sebagai Holding Perkebunan PTPN III (Persero) terus melakukan upaya pelestarian ekosistem perairan di sekitar kawasan operasional industri kelapa sawit.
"Kami melepasliarkan sedikitnya 60 ribu bibit ikan air tawar jenis baung dan nila ke belasan sungai yang mengalir di wilayah Riau, Sumatera," kata Jatmiko terkonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Penebaran puluhan ribu bibit ikan itu dilakukan melalui salah satu Regional Perusahaan secara serentak di 12 sungai yang berbatasan langsung dengan area operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS).
"Secara teknis, setiap titik lokasi sungai menerima alokasi pelepasan sekitar 5.000 bibit ikan," ujarnya.
Jatmiko menyampaikan langkah restocking atau penebaran kembali bibit ikan itu merupakan komitmen berkelanjutan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) untuk memulihkan populasi fauna perairan.
Ia menegaskan kelestarian ekosistem, termasuk sungai, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari aktivitas bisnis perusahaan.
βMenjaga ekosistem perairan bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian dari cara kami beroperasi," tuturnya.
Selain menebar bibit ikan untuk menjaga populasi fauna dan sumber daya perikanan bagi warga, kata dia, perusahaan juga aktif melakukan revegetasi melalui gerakan penanaman 1,5 juta pohon yang difokuskan pada kawasan bernilai konservasi tinggi, khususnya di area Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sempadan sungai.
Meski pelestarian lingkungan juga mencakup aspek darat melalui penanaman pohon, fokus menjaga kehidupan di bawah air tetap berjalan secara konsisten.
Sepanjang tahun 2026, total bibit ikan yang telah ditebar oleh PTPN IV PalmCo di wilayah Riau tercatat mencapai 70 ribu ekor.
Pemilihan bibit yang dilepasliarkan juga didasarkan pada pertimbangan ekologis dan ekonomis lingkungan setempat. Ikan nila dipilih karena memiliki tingkat kelangsungan hidup serta kemampuan adaptasi yang baik di lingkungan sungai.
Sementara itu, ikan baung dipilih karena merupakan spesies air tawar endemik yang populer di Riau dan memiliki nilai jual kompetitif di pasar tradisional.
Dalam proses pelepasliaran di lapangan, perusahaan tersebut turut melibatkan partisipasi warga pesisir sungai serta perangkat pemerintahan tingkat desa dan kecamatan setempat.
Keterlibatan masyarakat sejak tahap awal ini bertujuan untuk membangun sistem pengawasan lingkungan yang partisipatif dan menumbuhkan rasa kepemilikan warga terhadap kondisi sungai.
Dia berharap keberadaan bibit ikan itu mampu memotivasi masyarakat untuk merawat kualitas air dan secara kolektif menghindari metode tangkap ikan yang destruktif.
"Jika sungai dibiarkan sehat dan terawat, populasi baung dan nila tersebut dapat tumbuh dan memberikan manfaat langsung bagi ketahanan pangan maupun nilai tambah ekonomi masyarakat sekitar pada masa mendatang," kata Jatmiko.