NADIKABAR.COM — Pameran China-ASEAN Expo ke-23 yang tengah berlangsung di Nanning, Daerah Otonom Zhuang Guangxi, China, meluncurkan lokapasar kecerdasan buatan (AI) pertama yang diyakini bisa menunjang kerja sama ekonomi digital dengan menghubungkan solusi AI China untuk kebutuhan ASEAN.

Pameran tahun ini, yang diselenggarakan pada 17-21 September, membuat terobosan baru dalam segmen AI dengan menghadirkan satu lokasi utama dan satu sublokasi, yang masing-masing menawarkan fokus berbeda, menurut penyelenggara acara.

Lokasi utama tersebut menampilkan berbagai teknologi mutakhir seperti model bahasa besar dan cip AI, sementara sublokasi tersebut menghadirkan lebih dari 400 produk dari 60 perusahaan yang dirancang khusus untuk pasar ASEAN, termasuk kacamata AI, robot pintar, serta perangkat rehabilitasi dan alat bantu perawatan. Baik pengunjung maupun pembeli dapat mencoba langsung produk-produk tersebut di lokasi dan melakukan pemesanan secara langsung.

Di sublokasi tersebut, perusahaan-perusahaan China seperti Huawei, iFlytek, dan Unitree Robotics memamerkan kemajuan terbaru dalam bidang kecerdasan berwujud (embodied intelligence), penerapan model AI besar, dan tata kelola perkotaan. Sejumlah organisasi dari negara-negara ASEAN, termasuk Thailand dan Indonesia, juga memamerkan teknologi AI buatan dalam negeri di panggung yang sama.

Sublokasi untuk segmen AI ini akan tetap dibuka sepanjang tahun setelah pameran tersebut berakhir, menawarkan produk-produk AI konsumen asal Tiongkok sepanjang tahun dan membantu mengubah "produk unggulan pameran" menjadi dorongan yang berkelanjutan bagi produk-produk tersebut untuk mendunia.

"Kami tidak mengejar teknologi paling canggih ataupun jajaran produk terlengkap," ujar Lu Xinning, wakil kepala pemerintah daerah Guangxi.

"Yang kami upayakan adalah keselarasan terbaik dengan ASEAN dan hasil nyata yang paling kokoh di lapangan," kata dia menambahkan.

Pameran ini juga untuk pertama kalinya menghadirkan area pameran yang menampilkan berbagai proyek dan kebutuhan aplikasi dari negara-negara ASEAN di sejumlah bidang seperti transportasi, logistik cerdas, AI, pengelolaan perkotaan, dan pengembangan kawasan industri. Selain itu, area pameran keuangan menambah zona seluas 10.000 meter persegi yang didedikasikan untuk "AI Plus Finance".

Dengan AI sebagai penghubung, pameran ini membangun antarmuka super bagi kerja sama ekonomi digital China-ASEAN. Langkah ini dilakukan seiring upaya China dan ASEAN untuk mempercepat implementasi Protokol Peningkatan Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN 3.0, yang ditandatangani pada Oktober 2025 dan mencakup berbagai bidang seperti ekonomi digital serta pembangunan hijau.

Hubungan ekonomi antara China dan ASEAN terus menguat. Perdagangan bilateral melampaui angka 1 triliun dolar AS (1 dolar AS = Rp17.745) untuk pertama kalinya pada 2025, dengan total nilai mencapai 1,05 triliun dolar AS, naik 7,4 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pada tujuh bulan pertama 2026, perdagangan antara kedua pihak mencapai 744,41 miliar dolar AS, meningkat 24,7 persen (yoy) dan mencakup 21,8 persen dari total perdagangan luar negeri Tiongkok.

Tiongkok tetap menjadi mitra dagang terbesar ASEAN selama 17 tahun berturut-turut, sementara ASEAN telah menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok selama enam tahun berturut-turut.