Kemenbud juga mengembangkan rencana pendirian rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town.

"Kita ingin membangun kesinambungan dialog kebudayaan dari Jakarta, Amsterdam, hingga Cape Town. Melalui berbagai program tersebut, sejarah Syekh Yusuf dapat terus dikaji dan diperkenalkan kepada masyarakat luas," ungkap Fadli.

"Kami juga berharap kehadiran rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town dapat menjadi jembatan kebudayaan yang memperkuat hubungan Indonesia dan Afrika Selatan secara berkelanjutan," sambungnya.

Fadli mengajak seluruh pihak untuk menjadikan pameran tersebut sebagai ruang pembelajaran bersama dalam memahami dan merawat sejarah yang membentuk kehidupan masyarakat.

Ia berharap pameran ini dapat membuka lebih banyak percakapan dan memperkuat hubungan kebudayaan Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan, sekaligus menjadi momentum untuk memperdalam kerja sama lintas negara dalam memperingati 400 tahun Syekh Yusuf al-Makassari.

"Selalu ada sesuatu yang hadir sebelum apa yang kita lihat hari ini. Ada kehidupan, perjalanan, perjuangan, dan komunitas. Tanggung jawab kita adalah menghadirkan sejarah tersebut agar dapat dikenali, dilestarikan, dan dimaknai oleh generasi baru," kata Fadli.

Sementara itu, Dubes Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen menyampaikan pameran ini menghadirkan kisah sejarah yang menghubungkan Indonesia, Afrika Selatan, Sri Lanka, dan Belanda.

Menurutnya, sejarah tersebut tidak hanya dapat dipahami melalui dokumen dan arsip, tetapi juga melalui ingatan, benda, suara, serta fotografi yang memperlihatkan pengalaman masyarakat lintas generasi.

"Sejarah memiliki banyak cerita, tetapi tidak semua cerita disampaikan dengan suara yang sama atau didengar secara setara. Bagi kami, pameran ini menjadi cara untuk terhubung dengan sejarah sekaligus membuka ruang refleksi," jelas Marc.

"Kisah Syekh Yusuf dan masyarakat Cape Malay mengingatkan kita bahwa masih banyak jejak sejarah bersama yang perlu dikenali dan tidak boleh dilupakan," sambungnya.