Namun, Heru menilai keberhasilannya tidak cukup diukur dari kemampuan menampilkan aksara dalam nama domain, melainkan juga dari kesiapan aplikasi dan layanan digital untuk menggunakannya.

"Tanpa dukungan ekosistem digital yang inklusif, aksara tradisi berisiko semakin terpinggirkan," tandas dia.

Sebaliknya, Universal Acceptance membuka peluang bagi masyarakat untuk mempertahankan identitas budaya sekaligus berpartisipasi dalam kehidupan digital.

Menurut Heru, internet yang inklusif bukanlah internet yang menyeragamkan penggunanya, melainkan ruang digital yang memungkinkan setiap masyarakat terhubung dengan dunia tanpa kehilangan akar budayanya.