Ia mengakui, masih ada sejumlah kendala, khususnya terkait keterbatasan biaya dan peralatan pengolahan hasil panen seperti mesin penggiling, mesin oven, dan mesin vakum.

Untuk itu, Arief meminta penguatan pendampingan dari penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan pihak terkait. Sementara, pemerintah akan mendorong pengujian kualitas beras, mulai dari cita rasa, tingkat kepulenan, hingga daya tahan setelah dimasak.

Menurut Bupati, aspek kualitas dan kemasan menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat posisi beras organik di pasar.

"Kita punya cita-cita menjadikan Kabupaten Blora sebagai kabupaten organik. Pengembangannya dimulai dari desa-desa yang memiliki potensi, salah satunya Desa Gondel. Beberapa desa lainnya juga sudah mulai mengembangkan pertanian organik," katanya.

Pada saat bersamaan, Arief juga mengapresiasi pran Exxon dan Trubus, khususnya tim pendamping yang telah tinggal selama berbulan-bulan untuk memberikan pembinaan dan pengetahuan kepada petani.

Perwakilan kelompok petani perempuan Desa Gondel, Unsiatun Noor, menyebutkan para peserta telah mempraktikkan penanaman berbagai jenis sayuran organik, seperti kangkung, bayam, sawi, dan tomat.

Sebelumnya, mereka menerima pendampingan selama sekitar enam bulan dan telah memiliki keterampilan baru, termasuk budidaya sayuran, hingga pembuatan pupuk organik secara mandiri serta mikroorganisme lokal (MOL) berbahan nasi sebagai bahan pendukung pertanian organik.

"Sebelumnya kami belum memahami cara membuat MOL nasi. Melalui pendampingan program ini, kami diajari membuatnya sendiri dan alhamdulillah berhasil," tutur Unsiatun.

Unsiatun berharap, program pendampingan dapat terus berlanjut. Ia menilai pengetahuan dan keterampilan kelompok perempuan masih perlu ditingkatkan.