"Sebetulnya kami juga belum bisa memastikan apakah getaran dan sesekali dentuman keras yang kami rasakan ini betul dari aktivitas vulkanik Gunung Krakatau karena kami sendiri bingung belum ada informasi resmi apapun dari pemerintah. Kami masih bingung apa yang sebetulnya terjadi dan harus berbuat seperti apa," imbuh dia.

Sebelumnya, BNPB mengatakan pemerintah memberi perhatian soal kekhawatiran masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kekhawatiran tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman masyarakat terhadap peristiwa tsunami pada 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Oleh sebab itu, diharapkan kepada masyarakat agar tidak panik," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Sabtu (5/9).

Meski demikian, PVMBG tetap melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari PVMBG serta tidak mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan aktivitas visual maupun suara dentuman yang terdengar.