NADIKABAR.COM β Para pekerja di perusahaan pengembang gim populer "Candy Crush Saga", King, menyatakan rencana mogok kerja pada pekan depan akibat negosiasi yang mandek terkait kontrak kerja.
Hal itu disampaikan secara resmi melalui serikat pekerja Swedia Unionen dan Sveriges Ingenjorer.
Dilaporkan Engadget, Kamis (17/9), para pengembang di perusahaan King telah berupaya menegosiasikan kontrak serikat pekerja selama bertahun-tahun.
Namun karena negosiasi ini mengalami jalan buntu akibat usulan perjanjian kerja kolektif (CBA) mereka ditolak pimpinan studio pada Agustus 2026, kini mereka memutuskan untuk mogok kerja dan merilis pemberitahuannya secara resmi.
"Anggota kami di King berhak atas kondisi kerja yang aman, suara dalam tempat kerja mereka, dan aturan yang jelas yang berlaku untuk semua orang," tulis Unionen di platform LinkedIn. "Itulah mengapa Unionen memberikan pemberitahuan tentang aksi mogok."
Sveriges IngenjΓΆrer menyampaikan sentimen serupa dalam pernyataannya secara terpisah, mereka mencatat apabila pada akhirnya anggota serikat pekerja dan pimpinan King tidak dapat mencapai kesepakatan dengan mediator, pemogokan akan berlaku pada 25 September 2026.
King mengarahkan serikat pekerja ke jalur mediasi ketika menolak untuk menerima Perjanjian Kerja Bersama (CBA) yang diusulkan.
Penolakan disampaikan dengan alasan bahwa tunjangan yang ada lebih baik bagi semua karyawan globalnya, termasuk mereka yang berada di Swedia.
Namun, kondisi dirilisnya pemberitahuan pemogokan tidak selalu berarti serikat pekerja harus melaksanakannya. Ancaman penghentian kerja seringkali cukup untuk membuat manajemen kembali ke meja perundingan.
Microsoft mengakuisisi King sebagai bagian dari pembelian Activision Blizzard senilai 68,7 miliar dolar AS (senilai Rp1 kuadriliun) pada 2023.
Setelah akuisisi selesai, King kemudian menjadi salah satu pencetak pendapatan video game Microsoft yang paling menjamin.
Gim populer "Candy Crush Saga" milik King bahkan menghasilkan 875 juta dolar AS (sekitar Rp12,86 triliun dengan kurs 2025) hanya pada 2025, menurut laporan Bloomberg.
Kondisi ini kemungkinan akan menambah tekanan lebih besar pada negosiasi kontrak.
Penerjemah: Livia Kristianti