Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel pernah menjadi salah satu tokoh yang paling ramai diberitakan dalam skandal penyadapan internasional pada 2013.
Berdasarkan dokumen rahasia yang dibocorkan Edward Snowden, badan intelijen Amerika Serikat (NSA) diduga telah memantau komunikasi telepon seluler Merkel.
Penyadapan tersebut bahkan disebut telah berlangsung sejak 2002, ketika Merkel masih menjabat sebagai pemimpin oposisi Jerman.
Merkel kemudian menghubungi Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, untuk meminta penjelasan. Ia juga menyampaikan bahwa penyadapan terhadap sekutu merupakan tindakan yang tidak dapat diterima.
Kasus ini memicu ketegangan diplomatik antara Jerman dan Amerika Serikat. Pemerintah Jerman bahkan memanggil Duta Besar AS untuk meminta penjelasan terkait dugaan tersebut.
Presiden Brasil Dilma Rousseff juga pernah menjadi sasaran dugaan penyadapan NSA pada 2013.
Dokumen yang dibocorkan Edward Snowden mengungkap dugaan bahwa badan intelijen AS mengakses komunikasi elektronik Rousseff, termasuk pesan dan surat elektronik miliknya serta sejumlah penasihat dekatnya.
Tidak hanya itu, perusahaan minyak milik negara Brasil, Petrobras, juga dilaporkan menjadi sasaran pengawasan.
Rousseff menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negaranya. Sebagai bentuk protes diplomatik, ia bahkan membatalkan kunjungan kenegaraan ke Washington yang sebelumnya dijadwalkan pada Oktober 2013.
Keputusan tersebut menjadi salah satu respons diplomatik paling tegas terhadap skandal pengawasan NSA.
Mantan Presiden Meksiko Enrique Peña Nieto juga pernah terseret dalam skandal penyadapan yang melibatkan NSA.
Pada 2013, laporan media internasional berdasarkan dokumen Snowden mengungkap dugaan bahwa komunikasi elektronik Peña Nieto telah dipantau sebelum dirinya resmi menjabat sebagai presiden.
Informasi yang dikumpulkan disebut mencakup pesan elektronik dan komunikasi politik yang berkaitan dengan aktivitasnya.