Salah seorang warga yang berjualan tak jauh dari patung tersebut, Nengah Sumatraman, menerangkan, sesuai namanya, kawasan Desa Pikat dahulu memang menjadi tempat favorit para pencari burung.
Meski demikian, Nengah menegaskan bukan berarti warga di sana masih menjalankan tradisi menangkap burung hingga saat ini.
"Itu cerita dulu. Kalau sekarang sudah tidak ada lagi warga yang melakukan mepikat," ujar Nengah saat ditemui di lapaknya, Minggu (30/8/2026).
Kini, prasasti sejarah Desa Pikat beserta Patung Mepikat yang ditandatangani oleh Perbekel Desa Pikat, I Wayan Navy Sudarsa, berdiri kokoh tidak hanya sebagai penghias Lapangan Umum Desa Pikat, tetapi juga sebagai sarana edukasi warisan budaya bagi generasi muda dan siapa saja yang berkunjung.