Upayanya berbuah manis ketika mahkota Kawung Ananta disematkan kepadanya sebagai Putri Batik Nusantara 2026 setelah mengungguli finalis dari Banten (Ratu Saskia) dan DKI Jakarta (Cahyaning Galuh).
Prestasi Kadek dan Putu di ajang PPBN 2026 seolah mengingatkan bahwa menjaga batik hari ini tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Sering kali, hal itu dimulai dari keputusan mengenakan batik dalam keseharian.
Pada kesempatan lain, hal itu bisa tumbuh begitu saja dari sebuah percakapan di radio, unggahan di media sosial, desain baru, cerita tentang sebuah motif, atau keberanian seorang anak muda memperkenalkan batik kepada lingkungannya.
Dari hal-hal kecil seperti itulah sebuah warisan menemukan jalan untuk terus hidup. Sebab setiap warisan membutuhkan pewaris. Sesuatu yang diwariskan tidak akan benar-benar hidup hanya karena disimpan, dipamerkan, atau dikenang.