Warisan membutuhkan manusia yang bersedia menerimanya, memahami maknanya, lalu membawa nilai yang terkandung di dalamnya berjalan lebih jauh melintasi zaman.
Begitu pula dengan batik. Selama berabad-abad, batik bertahan bukan semata karena motif dan teknik pembuatannya diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Batik hidup karena setiap zaman selalu menemukan cara untuk memberi makna baru pada selembar kain tanpa harus memutus hubungannya dengan masa lalu.
Di dalam selembar batik tersimpan lebih dari sekadar warna dan motif. Ada cerita keluarga, identitas suatu daerah, pengetahuan tentang alam, keterampilan tangan, ingatan kolektif, hingga jejak perjalanan masyarakat yang melahirkannya.
Oleh karena itu, ketika generasi berganti, sesungguhnya yang perlu diwariskan bukan hanya kemampuan membuat atau mengenakan batik. Yang jauh lebih penting adalah rasa memiliki terhadap cerita di baliknya.