Ironisnya, keuntungan tersebut dapat dinikmati oleh para pelaku usaha di sepanjang rantai pasok, sementara sebagian biaya kerusakan ekologis justru dibebankan kepada masyarakat di sekitar wilayah produksi.

Karhutla terlalu sering disederhanakan sebagai konsekuensi musim kemarau dan El Niño. Cuaca panas memang memperbesar risiko kebakaran. Akan tetapi, menyalahkan alam semata berarti mengabaikan persoalan struktural yang terjadi di balik pengelolaan lahan.

Penggunaan api dapat menjadi cara yang murah untuk membuka lahan. Dalam hal ini, karhutla tidak lagi semata-mata menjadi persoalan ekologis, namun juga dapat bersinggungan dengan kepentingan ekonomi dan politik.