NADIKABAR.COM — Selasa 27 Oktober, Israel menggelar Pemilihan Umum untuk memilih 120 anggota baru parlemen (Knesset) yang diprediksi dapat mengubah peta politik negara itu dan nasib pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Pada 2022, Netanyahu kembali berkuasa berkat selisih suara yang tipis dengan kelompok oposisi. Tapi tahun ini dia, diyakini banyak kalangan, bakal menghadapi kesulitan untuk berkuasa lagi.
Namun demikian, dari beberapa jajak pendapat, baik koalisi Netanyahu maupun blok oposisi pimpinan Gadi Eisenkot dari Partai Yashar, akan sulit mendapatkan mayoritas 61 kursi untuk bisa membentuk pemerintahan baru.
Dalam situasi itu, dua partai Arab yang memiliki kursi di Knesset, diprediksi memenangkan 16 kursi pada Pemilu 27 Oktober. Artinya, mereka akan menjadi penentu apakah Israel akan kembali dipimpin Netanyahu atau tidak.
Masalahnya, semua kubu politik di Israel menolak melibatkan partai-partai Arab dalam pemerintahan walau pada 2021 Ra'am menjadi partai Arab pertama yang berkoalisi membentuk pemerintahan pimpinan Natftali Bennet yang hanya bertahan satu tahun mengisi kursi perdana menteri.