Para kandidat yang menentang perang dikecualikan dari pemilihan. Partai liberal antiperang Yabloko tidak diizinkan ikut serta dalam pemilihan. Partai tersebut juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap keselamatan para pendukungnya, setelah dua tokoh utamanya dijatuhi hukuman penjara dalam jangka waktu yang panjang setelah mengeluarkan pernyataan soal perang melawan Ukraina.
Presiden Vladimir Putin menyebut pemungutan suara tersebut sebagai ujian dukungan akan kebijakan yang diambil Rusia. Sebaliknya, pemerintah Ukraina menyebut pemungutan suara itu sebagai "pemilu palsu".
Para penentang Kremlin, pakar independen, dan oposisi dari pengasingan menuding panitia pemilu memanipulasi hasil pemungutan suara. Bahkan kaum komunis pro pemerintah di bawah kepemimpinan Gennadi Zyuganov menyampaikan tuduhan serupa.
Yabloko dan tim politisi oposisi Alexei Navalny, sosok kritikus Kremlin yang meninggal Februari 2024, menyatakan bahwa banyak suara warga Rusia yang mendukung negosiasi damai dengan Ukraina telah dirampas. Tim Navalny menyatakan, "Terlepas dari seberapa besar pemilu ini dimanipulasi, kami mengetahui: Ada banyak sekali warga Rusia yang menentang perang dan menentang Putin serta partainya."
Tingkat partisipasi pemilih mencapai lebih dari 56 persen, angka tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Lebih dari 110 juta orang dipanggil untuk memberikan suara dalam pemungutan suara yang berlangsung dari Jumat hingga Minggu lalu.
Ketua Partai Rusia Bersatu, mantan Presiden Dmitry Medvedev, menilai hasil pemilu tersebut sebagai keberhasilan besar. Lawan politiknya telah mencoba menyabotase pemilu, namun gagal, katanya sembari merujuk pada serangan siber terhadap sistem pemungutan suara daring yang dilaporkan oleh panitia pemilu.