"Dapat dipahami bahwa terdapat kekhawatiran mengenai keamanan tenaga nuklir di negara yang kecil dan padat penduduk seperti Singapura. Kami menanggapi kekhawatiran tersebut dengan sangat serius. Keamanan harus diutamakan," kata Wong.

Dia menyebut kekhawatiran itu tidak boleh membuat Singapura mengesampingkan opsi membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Dia mengatakan kajian akan dilakukan secara cermat.

"Akan tetapi, kita tidak boleh mengesampingkan suatu opsi hanya karena opsi tersebut sulit atau kontroversial. Kita harus menilai risiko dan konsekuensinya secara cermat, melibatkan masyarakat Singapura, dan pada akhirnya mengambil keputusan yang tepat demi mengamankan masa depan energi kita," ujarnya.

Mulai tahun 2027, Singapura akan menjalani penilaian oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) untuk mengukur kemampuan negara tersebut dalam mengambil keputusan yang tepat terkait penerapan energi nuklir. Proses yang dikenal sebagai Integrated Nuclear Infrastructure Review (Tinjauan Infrastruktur Nuklir Terpadu) dari IAEA ini mencakup berbagai tahapan dengan tonggak pencapaian utama yang harus dipenuhi.

Hal ini bertujuan untuk memandu negara-negara dalam memahami komitmen serta kewajiban yang terkait dengan pengembangan program tenaga nuklir. Wong mengatakan menangani berbagai kekhawatiran saat ini hanyalah sebagian dari tugas pemerintah.

"Kita juga harus mempersiapkan Singapura untuk masa depan-artinya kita perlu melihat ke depan, mengantisipasi masalah, dan bertindak sebelum persoalan tersebut menjadi semakin sulit untuk diatasi," ujarnya.

"Bayangkan perekonomian masa depan. Perekonomian tersebut akan tetap digerakkan oleh gagasan dan talenta, namun daya komputasi akan menjadi semakin penting, dan hal itu membutuhkan energi dalam jumlah yang sangat besar," sambungnya.