NADIKABAR.COM — Pasukan militer Amerika Serikat (AS) resmi meninggalkan Irak. Sebagai negara tetangga Irak, Iran bersorak menyambutnya dan menyebut kemenangan bersejarah.

Keputusan Pasukan AS menarik diri dari Irak itu disampaikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dia menyebut hal ini sebagai kemenangan bagi AS dan Irak atas ISIS.

"Hari ini, dengan bangga saya umumkan bahwa pasukan Amerika terakhir sedang meninggalkan Irak!" kata Trump melalui akun X resmi Gedung Putih @WhiteHouse, Kamis (1/10/2026).

Menurut Trump, AS sudah lama terjebak dalam situasi pelik akibat pengambilan keputusan yang buruk di masa lalu. Dia mengatakan tak lama lagi, keputusan tersebut hanya akan menjadi bagian dari sejarah.

Trump menyebut hal ini merupakan hal yang luar biasa bagi AS. Ia lalu mengapresiasi sosok pemimpin Irak yang baru, yang sudah didukungnya sejak awal.

"Ini adalah hari yang luar biasa bagi Amerika dan, yang terpenting, kita meninggalkan Irak dengan Perdana Menteri baru yang hebat, Ali al-Zaidi-sosok yang saya dukung sejak awal dan saya restui sepenuhnya. Ia memenangkan pemilihan umum yang awalnya tidak diprediksi akan dimenangkannya, dan ia menang dengan keunggulan mutlak!" kata Trump.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyambut baik penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari wilayah Irak, negara tetangganya. IRGC menyebutnya sebagai "kemenangan bersejarah". Mereka juga menyerukan agar pasukan Amerika meninggalkan kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan yang dirilis media resmi mereka, seperti dilansir AFP, Kamis (1/10/2026), IRGC "menyampaikan selamat kepada bangsa Irak yang membanggakan, front bersatu Perlawanan Islam, dan para pejuang revolusioner dunia Islam atas kemenangan bersejarah ini".

Bagi pemerintah Irak di Baghdad, 30 September 2026 menandai berakhirnya sebuah era. "1 Oktober akan menjadi hari baru dalam perjalanan negara Irak, dengan negara yang bebas dari kehadiran militer asing dan terwujudnya kedaulatan nasional penuh atas wilayahnya," kata Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi dalam sebuah pernyataan. Momen ini akan dirayakan sebagai "Hari Kemerdekaan" dengan empat hari libur resmi.

Pada Rabu (30/09), Amerika Serikat akan menyelesaikan penarikan 2.500 tentara terakhirnya dari wilayah Irak sesuai perjanjian 2024. Kepergian mereka mengakhiri 12 tahun misi 'Operation Inherent Resolve' yang dipimpin AS melawan kelompok Negara Islam atau ISIS, yang saat itu sedang menggempur Irak dan Suriah.

Penarikan ini juga menandai berakhirnya lebih dari dua dekade keterlibatan militer AS di Irak. Setelah invasi AS pada 2003, pasukan AS menarik diri pada 2011 dan kembali lagi pada 2014 untuk memerangi ISIS. Langkah ini juga merupakan bagian dari strategi AS yang lebih luas untuk mengurangi kehadiran militernya di Timur Tengah.

Namun penarikan AS tidak berarti berakhirnya semua pengerahan militer asing di Irak. Turki masih memiliki pasukan di Irak, meski Ankara pada awal pekan ini mengatakan akan secara bertahap menyerahkan sebuah pangkalan militer di Irak utara kepada Baghdad.

"Pada 2024, Baghdad dan Washington sepakat pada apa yang mereka sebut hubungan yang dinormalisasi," kata Renad Mansour, wakil direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara serta direktur Iraq Initiative di lembaga pemikir Chatham House, London, kepada DW. "Bagi Baghdad, tujuan politiknya sekarang adalah memperjelas bahwa Irak ingin tetap menjadi sekutu AS," katanya.

Menurutnya, PM Irak Ali al-Zaidi khawatir Washington bisa mulai memandang Irak dan milisi non-negara yang didukung Iran terlalu dekat dengan Teheran, mengingat AS dan Israel sedang berperang dengan Iran.