Pada Sabtu, pemerintah Yaman juga mengatakan pasukannya menyerang sejumlah sasaran Houthi di berbagai wilayah, termasuk Sanaa, Saada, serta posisi kelompok itu di dekat Taiz di barat daya Yaman.

Yaman merupakan salah satu negara termiskin di dunia dan masih dilanda krisis kemanusiaan besar.

Perang pecah pada 2014, ketika Houthi merebut ibu kota dari pemerintah yang didukung Arab Saudi, sebelum kemudian menguasai sebagian besar wilayah utara negara itu.

Riyadh kemudian terlibat dalam perang pada tahun berikutnya dengan memimpin koalisi internasional.

Setelah beberapa tahun relatif tenang, perang kembali berkobar pada Juli di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah.

Bulan lalu, serangan ofensif kilat membuat Houthi berhasil menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman.

Hal ini membuat Arab Saudi tidak dapat menggunakan jalur tersebut sebagai rute alternatif ekspor minyak selain melalui Selat Hormuz.

Strategi itu menguntungkan Iran, pendukung utama Houthi. Namun, langkah tersebut juga menyeret Arab Saudi kembali ke konfrontasi militer langsung dengan Houthi.

Kelompok Houthi adalah kelompok politik dan keagamaan bersenjata yang berasal dari Yaman utara dan memperjuangkan kepentingan kelompok minoritas Muslim Syiah di negara itu, yaitu kaum Zaidi.

Mereka menyatakan diri sebagai bagian dari "poros perlawanan" yang dipimpin Iran dalam menghadapi Israel, AS, dan negara-negara Barat secara lebih luas, bersama kelompok-kelompok bersenjata seperti Hamas dan Hizbullah di Lebanon.

Secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah (Pendukung Allah), kelompok ini muncul pada 1990-an dan mengambil nama dari mendiang pendiri gerakan tersebut, Hussein al-Houthi. Adiknya, Abdul Malik al-Houthi, menjadi pemimpin de facto kelompok itu sejak 2004.

Kelompok Houthi telah menguasai Yaman utara sejak 2014 (EPA)

Pada awal 2000-an, Houthi memberontak terhadap presiden otoriter Yaman yang telah lama berkuasa, Ali Abdullah Saleh.

Mereka menuntut otonomi yang lebih luas bagi wilayah asal kelompok tersebut di Yaman utara.

Houthi kemudian merebut ibu kota Sanaa setelah gelombang Arab Spring pada 2011, ketika pemberontakan rakyat memaksa Saleh menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya.

Kekuatan Houthi terus bertambah. Jumlah pasukannya diperkirakan meningkat menjadi 350.000 orang tahun lalu.

Kini, mereka menguasai sekitar seperempat hingga sepertiga wilayah Yaman, tetapi wilayah tersebut dihuni 70% hingga 80% penduduk negara itu, atau sekitar 30 juta orang.

Kelompok tersebut menginginkan berakhirnya blokade Saudi, menguasai seluruh wilayah Yaman, serta memperoleh akses terhadap pendapatan dari minyak dan gas Yaman.

Arab Saudi, negara tetangga Yaman, khawatir Houthi akan mengambil alih Yaman dan menjadikannya negara satelit Iran, yang merupakan rival regional Saudi.

Pada 2015, Arab Saudi membentuk koalisi negara-negara Arab yang melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Namun, serangan udara dan pertempuran darat selama bertahun-tahun tidak berhasil mengusir Houthi dari sebagian besar wilayah yang telah mereka rebut.

Konflik tersebut juga memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Gencatan senjata sementara kemudian ditengahi pada 2022.