Tak lama setelah perang Gaza dimulai pada Oktober 2023, Houthi mulai meluncurkan drone dan rudal ke arah Israel serta menyerang kapal-kapal dagang di Laut Merah dan Teluk Aden. Mereka mengatakan serangan itu dilakukan untuk mendukung Palestina.
Komando Pusat AS (Centcom) menunjukkan komponen senjata Iran yang menurut mereka hendak dikirim kepada kelompok Houthi (US Central Command)
Negara-negara Barat mengerahkan kapal perang, sementara AS, Inggris, dan Israel melancarkan serangan udara. Sebuah serangan Israel menewaskan sejumlah tokoh senior Houthi, termasuk perdana menteri dari pemerintahan yang mereka deklarasikan sendiri.
Pada 2025, AS dan Houthi sepakat untuk berhenti saling menyerang. Namun, Houthi kembali melancarkan serangan rudal terhadap Israel setelah AS dan Israel menyerang Iran pada Februari 2026.
Sebelumnya, Houthi menghentikan serangan tersebut menyusul gencatan senjata di Gaza pada Oktober 2025.
Gencatan senjata informal antara Houthi dan Arab Saudi mulai goyah pada Juli.
Houthi mengumumkan "embargo maritim" terhadap Arab Saudi dan mulai melancarkan serangan rudal serta drone ke bandara, fasilitas minyak, dan kapal tanker Saudi di Laut Merah.
Mereka mengatakan serangan itu merupakan pembalasan atas apa yang disebut Houthi sebagai blokade Arab Saudi yang telah berlangsung bertahun-tahun, serta serangan udara terhadap Bandara Sanaa.
Setelah itu, Houthi melakukan gerak maju cepat pada September dan merebut hingga 130km garis pantai Laut Merah di Yaman, serta Pulau Perim.
Gerak maju tersebut memberi Houthi kendali signifikan atas Selat Bab al-Mandab yang strategis. Namun, mereka menegaskan tidak mengancam pelayaran internasional, kecuali kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi.
Aksi Houthi kembali memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dunia.
Bab al-Mandab menjadi jalur yang semakin penting bagi ekspor minyak Arab Saudi setelah pelayaran melalui Selat Hormuz, di sisi lain Semenanjung Arab, berkurang akibat perang AS dan Israel dengan Iran.
Situasi juga semakin memburuk akibat serangan Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, serta serangan terhadap jaringan pipa minyak East-West yang dituding dilakukan oleh milisi Irak yang didukung Iran.
Eskalasi ini juga berisiko kembali menyeret negara-negara Barat ke dalam konflik.
Laporan media menyebut pemerintah Yaman dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah mendesak Presiden Trump untuk menyerang Houthi menyusul ofensif kelompok tersebut.
Namun, Trump tidak melakukannya dengan mengatakan bahwa Houthi telah sepakat untuk tidak menyerang target-target AS.
Sementara itu, Inggris menyetujui permintaan Arab Saudi untuk mengerahkan pesawat militer guna membantu pengisian bahan bakar jet-jet tempur Arab Saudi dalam "misi yang sepenuhnya bersifat defensif".
Arab Saudi dan negara-negara Barat mengatakan Iran menyelundupkan senjata, termasuk drone serta rudal jelajah dan rudal balistik, kepada Houthi selama perang saudara di Yaman, yang melanggar embargo senjata PBB.
Sebuah panel pakar PBB pada 2024 menyimpulkan bahwa Houthi telah berkembang menjadi organisasi militer yang kuat berkat pasokan perlengkapan, bantuan, dan pelatihan dari Garda Revolusi Iran, kelompok Hizbullah di Lebanon, serta para ahli dari Irak.
Sementara itu, laporan Conflict Armament Research (CAR) pada Mei 2026, setelah perang dengan Iran dimulai, menemukan adanya perubahan pola.
Jika sebelumnya Teheran mengirimkan senjata siap pakai kepada Houthi, kini Iran semakin banyak mengirimkan komponen senjata yang dapat dirakit oleh kelompok-kelompok proksinya. Iran juga disebut membagikan teknologi rudal yang semakin canggih.
Iran membantah memasok senjata kepada Houthi dan mengatakan hanya memberikan dukungan politik kepada kelompok tersebut.