Vatikan mengatakan sekitar 700 ribu orang berkumpul di sepanjang area lebih dari dua kilometer hingga melewati Arc de Triomphe. Pusat kota ditutup untuk pelaksanaan misa, dengan helikopter berpatroli di udara dan penembak jitu ditempatkan di atas gedung-gedung.

Sejumlah orang yang duduk di trotoar memeluk lutut dan menundukkan kepala dengan khusyuk sambil mendengarkan suara Paus yang menggema di sepanjang Champs-Elysees.

Para orang tua datang dengan kereta bayi dan menggendong anak-anak mereka di pundak, berharap dapat melihat langsung Paus.

Jeanne de Montagnac, 29 tahun, datang bersama suami dan putrinya yang berusia dua tahun. Putrinya duduk di pundak sang ayah, dengan nomor telepon yang ditulis menggunakan pena di lengannya.

"Kami bahagia karena meskipun dia tidak akan mengingatnya, kami bisa berbagi pengalaman ini dengannya," kata Jeanne. Sebuah salib emas kecil tergantung di atas sweater berwarna putih gading yang dikenakannya.

"Ini adalah momen penting bagi kami untuk dikelilingi orang-orang lain yang juga memiliki keyakinan," katanya.

Sebelumnya pada hari yang sama, Paus bertemu dengan para migran saat mengunjungi Maison Bakhita, sebuah organisasi yang mendukung para pengungsi. Leo mengatakan "memungkinkan bagi kita untuk saling bertemu dan hidup bersama dalam martabat dan perdamaian".

Ia juga menekankan "peran fundamental perempuan dalam membangun peradaban cinta".

Organisasi tersebut mengatakan kunjungan Paus mengirimkan sebuah "pesan" menjelang pemilu pada April-Mei.