Berseberangan dengan AS, Prancis justru menjadi salah satu pendukung utama dan menyatakan akan segera meninggalkan penggunaan peta Mercator. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean Noel Barrot, menyoroti ketimpangan visual yang selama ini terjadi.

"Dalam peta tersebut Amerika Serikat, Rusia, and China tampak memiliki dominasi visual yang tidak proporsional dibanding Afrika, Amerika Latin, atau Asia Tenggara, sementara Greenland terlihat nyaris sebesar Afrika," jelas Barrot.

Langkah Prancis ini juga dinilai sebagai upaya diplomatik untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara Afrika, terutama mantan koloninya. Pada akhirnya, perubahan ini menegaskan bahwa cara dunia digambarkan di atas kertas bukan sekadar urusan teknis, melainkan instrumen yang membentuk persepsi manusia terhadap posisi dan signifikansi sebuah wilayah di kancah global.

Artikel ini sudah tayang di NadiKabar