NADIKABAR.COM — Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Selasa menyatakan bahwa hampir 19,2 juta warga Afghanistan diproyeksikan menghadapi kerawanan pangan akut musim dingin ini akibat kekurangan dana.

Pada September-Oktober, sebanyak 15,9 juta orang atau hampir satu dari tiga warga Afghanistan menghadapi kerawanan pangan akut pada tingkat krisis atau lebih buruk.

Juru bicara OCHA di Afghanistan Olga Cherevko mengatakan kepada wartawan di Jenewa bahwa sekitar lima juta orang berpotensi menghadapi kelaparan pada tingkat darurat musim dingin ini.

Dia mengatakan lebih dari empat juta anak berusia enam bulan hingga lima tahun diproyeksikan membutuhkan penanganan kekurangan gizi akut tahun depan.

Jumlah tersebut mencakup hampir 1,1 juta anak yang diperkirakan mengalami kekurangan gizi akut parah, kata Cherevko.

Sekitar sepertiga pusat layanan gizi telah ditutup atau menghentikan sementara layanan, sebagian akibat pemangkasan pendanaan.

"Ketika layanan ini menghilang, konsekuensinya menjadi tidak dapat dipulihkan, terutama bagi anak-anak," kata Cherevko.

Meski curah hujan dan produksi pertanian membaik, jutaan warga masih tidak mampu membeli makanan. Bertahun-tahun konflik, kekeringan, dan kesulitan ekonomi telah mengikis kemampuan keluarga untuk bertahan.

"Namun, satu kali panen yang baik setelah beberapa tahun kekeringan tidak dapat menghapus kerusakan yang telah terjadi," katanya.

Cherevko juga memperingatkan bahwa pembatasan terhadap perempuan dan anak perempuan memperburuk krisis di Afghanistan.

Dia mengutip perkiraan UNICEF bahwa Afghanistan dapat kehilangan hingga 20.000 guru perempuan dan 5.400 pekerja kesehatan perempuan pada 2030 jika pembatasan saat ini terus berlanjut.

Cherevko menyerukan bantuan kemanusiaan segera menjelang musim dingin, disertai investasi berkelanjutan di bidang pertanian, lapangan kerja, layanan kesehatan, serta peluang ekonomi bagi perempuan.

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan