Sejumlah kartografer kemudian berupaya mengatasi persoalan tersebut. Pada 2018, sebuah tim kartografer menciptakan peta dengan luas wilayah yang setara melalui proyeksi Equal Earth.
Pada Februari, 54 negara anggota Uni Afrika mengadopsi proyeksi tersebut. Mereka menyatakan peta itu "lebih akurat merepresentasikan ukuran semua benua, khususnya Afrika."
Kelompok kampanye daring #CorrectTheMap turut menggaungkan perubahan tersebut. Mereka menyoroti perbedaan ukuran Afrika dengan benua dan negara lain.
"Anda dapat memuat Amerika Serikat, China, India, Jepang, Meksiko, dan sebagian besar wilayah Eropa ke dalam Afrika, dan masih menyisakan banyak ruang daratan."
Menjelang pemungutan suara pada Jumat, Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey menyampaikan pandangannya kepada Reuters.
"Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil."
Sebelumnya, Dussey juga menyampaikan pandangan serupa dalam sebuah pemaparan di PBB.
"Sebuah peta tidak pernah netral. Peta membentuk persepsi, memengaruhi bagaimana posisi masyarakat dan benua di dunia dipahami."
Dussey mendapat dukungan dari Menteri Eropa dan Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot. Ia menyatakan kementeriannya akan berhenti menggunakan Peta Mercator.
"Mengubah peta tentu saja tidak mengubah dunia. Tetapi mengoreksi representasi yang mendistorsinya sudah merupakan sebuah tindakan kebenaran," ujarnya.