"Penyelidikan tersebut juga harus mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab guna memastikan mereka dimintai pertanggungjawaban," lanjutnya. Dujarric mengatakan al-Shami adalah staf PBB kedua yang meninggal saat ditahan oleh Houthi, sehingga menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan dan kesejahteraan semua orang yang ditahan serta personel kemanusiaan lainnya yang berada dalam situasi serupa, terutama mereka yang menderita kondisi medis serius. Al-Shami dilaporkan ditahan dalam gelombang penyerbuan yang dilancarkan Houthi pada Juni 2024, di mana 13 staf PBB ditangkap. Dujarric menyebutkan bahwa otoritas Houthi bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan semua personel PBB serta personel kemanusiaan lainnya yang ditahan.

Di bawah hukum hak asasi manusia internasional, setiap orang yang dirampas kebebasannya harus diperlakukan secara manusiawi dan selalu diberi perawatan medis serta perlindungan yang memadai. "Sekali lagi, Houthi harus membebaskan mereka semua dengan segera dan tanpa syarat. Seruan ini tidak hanya mencakup staf kami sendiri, tetapi juga personel misi kemanusiaan, misi diplomatik, dan masyarakat sipil," tutur Dujarric. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN OCHA) mengatakan warga sipil di Yaman masih terus mengungsi akibat kekerasan yang melanda beberapa provinsi, dengan hampir 135.000 orang mengungsi di dalam Provinsi Taiz. PBB menegaskan kembali seruannya tentang perlindungan warga sipil dan akses kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, dan tanpa hambatan, khususnya bagi para pengungsi dan masyarakat yang semakin terdampak oleh konflik yang sedang berlangsung.