Pada kesempatan tersebut, Hasto juga memberi kritik terkait dengan kultur patron-client yang masih sering terjadi di tubuh GMNI.
βStrategic leadership, ideologi, dan pelembagaan Partai menempatkan berjalannya fungsi-fungsi organisasi dan membangun kultur partai yang egaliter. Terlebih dengan Marhaenisme yang menekankan pentingnya keberpihakan pada rakyat tertindas, kesetaraan dan anti feodalisme. Patron client bagian dari feodalisme yang harus dikikis habis dari kultur GMNI," kata Hasto.
Karena itulah setiap kader GMNI harus mempelajari teori kritis. Di kampus tempatnya mengajar, Hasto mengaku membekali mahasiswa dengan teori-teori kritis yang membongkar relasi kuasa di balik setiap kebijakan.
"Teori kritis itu penuh dengan gugatan. Teori kritis itu selalu mencari apa relasi dengan kekuasaan. Teori kritis itu selalu berbicara di balik kebijakan siapa yang diuntungkan dan siapa yang paling dirugikan," tuturnya.
Karena itu, dia menilai GMNI sudah waktunya melengkapi diri dengan khazanah teori sosial yang mapan.
"GMNI sudah saatnya untuk menggali seluruh pemikiran-pemikiran kritis tentang diskursus. Misalnya Anda bisa pelajari teori dari Pierre Bourdieu, Anda bisa belajar teori tentang power dari Hannah Arendt," kata hasto.