Gustika menyebut tekanan itu juga berlangsung di ruang digital, termasuk serangan terhadap orang muda yang bersuara. Ia mengingatkan bahwa di dalam kelompok orang muda terdapat beragam profesi — peneliti, dokter, petugas pemadam kebakaran, seniman, wirausaha — yang kebutuhannya tidak sama.

Dari sisi ekonomi, kreator konten Saddam Permana membongkar narasi bahwa Indonesia sedang baik-baik saja. "Orang yang beli iPhone itu tidak merepresentasikan seluruh ekonomi masyarakat Indonesia," ujarnya.

Ia memakai pelajaran kebutuhan primer untuk menjelaskan persoalan: saat kebakaran hutan dan lahan membuat seratus ribu orang terpapar infeksi saluran pernapasan akut, udara bersih adalah kebutuhan primer, sementara berlibur ke luar negeri bukan.

Bagi Saddam, pendidikan adalah persoalan paling mendasar. "Pendidikan itu adalah dasar yang merupakan hak asasi manusia kita bersama," tegasnya, seraya menyebut anak-anak di Aceh dan Lombok yang terhambat bersekolah.

Sementara, Tom Lembong menilai generasi muda akan menghadapi tekanan terberat bila perekonomian goyah. Namun ia menolak berhenti pada pesimisme. Menurutnya, sejarah menunjukkan krisis kerap memicu reformasi yang menyelamatkan generasi berikutnya, seperti yang terjadi di sejumlah negara Eropa dan di Indonesia setelah 1998.

Dialog ini merupakan rangkaian peringatan Sumpah Pemuda yang digelar PDI Perjuangan. Millennium Public Pulse 28 dirintis sebagai ruang dialektika setiap tanggal 28, dan akan berlanjut hingga puncak satu abad Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2028. Bagi para narasumber, taruhannya jelas: apakah generasi muda hari ini mendapatkan ruang yang sama untuk menentukan masa depannya sendiri.