Mencapai jumlah sekitar 9.328 item, koleksi tersebut merekam perjalanan dan perkembangan kesusastraan modern Indonesia sekaligus hubungan intelektual para sastrawan di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina.

Dokumentasi yang tersimpan di dalamnya mencakup korespondensi pribadi, manuskrip, dokumentasi kegiatan kesusastraan, kliping surat kabar, karya penelitian, hingga rekaman audio.

Beragam koleksi tersebut menjadi sumber autentik untuk melihat pertukaran gagasan, hubungan profesional, serta jejaring kebudayaan yang berkembang di antara para sastrawan lintas negara.

Menurutnya, pelestarian warisan budaya merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan berbagai unsur dalam ekosistem Galleries, Libraries, Archives, and Museums (GLAM).

Nasruddin menjelaskan perpustakaan, museum, galeri, dan lembaga kearsipan memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga, mengembangkan, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dan memori kolektif.

"Upaya pelestarian tidak dapat hanya bergantung pada institusi pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif kota. Kami mendorong masyarakat Jakarta untuk terus membangun diskusi, pertukaran gagasan, dan wacana mengenai sejarah serta kebudayaan," papar Nasruddin.

Ia mengajak masyarakat yang memiliki surat, foto, manuskrip, catatan, atau dokumen lain yang dipandang memiliki nilai sejarah untuk berkonsultasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.