"Beberapa kali dalam sepekan ini seperti jam 4 sore itu aku di rumah, mandi mau ngidupin PDAM itu nggak ngalir dan jam 8 malam nggak ngalir," kata Yosep saat dihubungi NadiKabar hari ini.
Kalaupun mengalir, Yosep mengatakan, debit airnya kecil. Tandon di atas rumahnya tidak bisa diisi. Terkadang air juga keruh saat mengalir deras.
"Airnya PDAM aneh ya, kalau dikencengi itu butek seperti kemasukan tanah. Kalau sangat pelan itu malah jernih. Kalau pelan kapan mau penuh," keluhnya.
Kepala Humas PDAM Tirta Moedal, Charisma Mayang Sari mengatakan kondisi yang dialami pelanggan tersebut merupakan dampak dari berkurangnya air baku di IPA Kudu.
"Penurunan ketersediaan air baku tersebut terjadi sebagai dampak musim kemarau. Kondisi ini berpengaruh terhadap proses produksi sekaligus pendistribusian air minum kepada pelanggan di sejumlah wilayah Semarang Timur," kata Mayang dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8).
Saat ditanya seberapa banyak penurunan debit air di IPA Kudu, Mayang belum bisa memperkirakan. Dia menyebut air di IPA Kudu berasal dari Bendung Klambu.
"Untuk jumlah pasokannya ini detailnya itu setiap hari kan fluktuatif. Nggak bisa terus kita detailkan angka yang fix gitu karena setiap hari kan pasti pasokan ini kan naik turun gitu. Karena ini kan kalau (IPA) Kudu itu kan asalnya dari Bendung Klambu," bebernya.