NADIKABAR.COM — Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk situasi hak asasi manusia (HAM) di wilayah Palestina, Francesca Albanese, menyamakan tindakan Israel yang menewaskan puluhan ribu anak di Jalur Gaza dengan praktik yang dilakukan oleh Nazi selama Holocaust puluhan tahun lalu.
Albanese, seperti dilansir Middle East Monitor, Selasa (22/9/2026), menyampaikan komentar tersebut dalam postingan media sosial X pada Sabtu (19/9) waktu setempat, menanggapi pernyataan seorang model Israel, Sara Givaty, dalam wawancara dengan saluran berita berbahasa Ibrani, i24News.
Albanese memposting ulang sebagian wawancara Givaty, di mana model Israel itu bertanya: "Mungkinkah saya tidak merasa sedih melihat setiap anak yang menangis di dunia ini?"
Givaty juga mengatakan bahwa: "Saya merasa sedih. Namun, saya juga menyadari bahwa jika kita tidak bertindak, anak ini akan tumbuh menjadi seorang teroris."
Dalam tanggapannya, Albanese menyebut pernyataan Givaty itu mirip dengan argumen para pejabat Nazi soal anak-anak yang dibunuh selama Holocaust.
"'Anak-anak itu akan tumbuh dewasa'. Ini juga merupakan argumen yang disampaikan oleh para pejabat Nazi dalam pengadilan Nuremberg untuk membenarkan tindakan mereka membunuh anak-anak selama Holocaust," sebut Pelapor Khusus PBB tersebut.
Sepanjang perang berkecamuk di Jalur Gaza, Albanese telah mengambil sikap tegas dalam mendukung warga Palestina dan menentang tindakan Israel di wilayah tersebut. Dia menghadapi tekanan dan kritikan atas sikap juga laporannya soal perang Israel di Jalur Gaza.
Pada Juli 2025, Amerika Serikat (AS), sekutu dekat Israel, menjatuhkan sanksi terhadap Albanese. Alasannya, sanksi tersebut terkait upaya Albanese mendorong Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk mengambil tindakan terhadap para pejabat, perusahaan, dan eksekutif AS serta Israel.
Washington sebelumnya juga telah meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, untuk memberhentikan Albanese, dengan tuduhan "antisemitisme".
Lebih dari 21.500 Anak Tewas Selama Israel Bombardir Gaza
Kantor media pemerintah Gaza melaporkan pada 24 Agustus lalu bahwa militer Israel telah menewaskan lebih dari 21.500 anak di Jalur Gaza, sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
"Pasukan pendudukan (militer Israel-red) terus menumpahkan darat orang-orang tak berdosa, khususnya anak-anak," sebut kantor media pemerintah Gaza.
"Jumlah anak yang tewas sejak dimulainya perang genosida pada 7 Oktober 2023 telah melampaui 21.500 anak per tanggal 24 Agustus," demikian laporan kantor media pemerintah Gaza, sembari menyebut angka itu sebagai "korban jiwa yang sangat mengerikan" yang mencerminkan "kebrutalan kejahatan terorganisir ini".