NADIKABAR.COM — Pelatih tim nasional (timnas) esports Indonesia nomor eFootball Adyatma Priady mengakui hasil yang diraih anak asuhnya di kompetisi eFootball pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 berada di luar ekspektasi setelah gagal melaju ke babak semifinal di Aichi Sky Expo, Jepang, Rabu.

Adyatma mengatakan tim Indonesia sebenarnya tampil cukup baik sejak hari pertama dengan menyapu bersih pertandingan hingga menjadi juara grup.

"Di hari pertama kita bisa sapu bersih untuk menjadi juara grup. Terus yang kedua, di hari kedua pun kita sebenarnya sudah sangat pede sekali dengan perform yang kemarin di hari pertama," kata Adyatma.

Namun, hasil pertandingan pada hari berikutnya tidak berpihak kepada Indonesia sehingga langkah Rizky Faidan dan Radinka Wiratama terhenti sebelum semifinal.

Adyatma menilai terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi pertandingan, salah satunya kondisi jaringan yang menurut pemain mengalami sedikit keterlambatan dibandingkan hari pertama.

Pelatih juga mengungkapkan bahwa dirinya tidak diperbolehkan mendampingi pemain selama pertandingan berlangsung. Ia hanya dapat mendampingi hingga proses pengujian perangkat atau test device selesai.

"Coach itu cuma bisa sampai di test device. Setelah test device dikasih waktu lima menit, kita disuruh keluar dan kita nggak tahu apa yang akan terjadi di dalam," ujarnya.

Meski demikian, Adyatma mengatakan para pemain tidak mempermasalahkan kondisi jaringan tersebut dan memilih tetap melanjutkan pertandingan.

Dalam pertandingan melawan Uzbekistan, Faidan sebenarnya memiliki sejumlah peluang. Berdasarkan statistik yang dilihat Adyatma, Faidan melepaskan enam tembakan dengan lima di antaranya tepat sasaran, sementara lawannya hanya mencatatkan sekitar tiga tembakan dengan satu tembakan tepat sasaran.

Faidan juga sempat membawa Indonesia unggul 1-0 pada babak pertama. Namun, sejumlah peluang berikutnya gagal dikonversikan menjadi gol, termasuk dua tembakan yang membentur tiang.

"Dia sudah menyiapkan skenario untuk mencari gol berikutnya. Tetapi memang ada beberapa momen dia bilang peluangnya gagal. Ada yang kena tiang sampai dua kali, terus ada beberapa momen juga di-shoot enggak masuk," kata Adyatma.

Uzbekistan kemudian mampu mencetak gol pada babak kedua. Faidan berusaha kembali menekan hingga ke area pertahanan lawan, tetapi tidak mampu mencetak gol tambahan sehingga pertandingan berakhir imbang.

Pada pertandingan nomor mobile, Radinka juga sempat unggul cepat 1-0 pada menit ketiga. Namun, Uzbekistan mampu membalikkan keadaan dan membuat Indonesia tertinggal 1-3 pada babak pertama.

Indonesia kemudian mencetak satu gol tambahan pada babak kedua. Akan tetapi, keterbatasan waktu pertandingan mobile yang hanya enam menit membuat upaya mengejar ketertinggalan menjadi semakin sulit, terutama ketika lawan memilih bermain bertahan.

Adyatma menilai kondisi tersebut juga berpotensi memberikan tekanan kepada Radinka setelah melihat hasil pertandingan Faidan sebelumnya.

"Kalau yang saya lihat memang kondisinya si Radinka mungkin melihat hasil dari pertandingan Faidan. Jadi dia mungkin agak sedikit tertekan dan terbeban. Kalau misalnya saya ada di sana mungkin saya bisa menenangkan," ujarnya.

Ia mengatakan aturan panitia memang tidak memperbolehkan pelatih berada di area pertandingan dan hanya dapat mendampingi atlet pada tahap awal.

Mewakili tim dan kedua atlet, Adyatma menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Indonesia karena hasil yang diraih belum sesuai dengan target.

"Saya mewakili tim, mewakili atlet Rizky Faidan dan Radinka. Saya minta maaf sebesar-besarnya kalau memang hasilnya di luar ekspektasi kita. Apalagi kita ditargetkan emas," katanya.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi timnas esports Indonesia untuk menghadapi kompetisi berikutnya dan mampu kembali membawa nama Indonesia di level internasional.

"Mungkin di next event kita bisa menjadi lebih baik dan bisa membawa nama Indonesia di level tertinggi," ujar Adyatma.