Sudiasa menjelaskan lukisan tersebut memiliki relevansi dengan para penyintas skizofrenia di Rumah Berdaya, sebab orang dengan skizofrenia (ODS) ingin terbebas dari belenggu stigma masyarakat.
‘Kami para ODS ingin menunjukkan bahwa orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) juga mampu berkreativitas dan berkarya, sehingga dapat mengikis stigma yang ada’.
Demikian deskripsi yang tertulis di balik bungkus dupa Arusaji, yang menunjukkan semangat para penyintas skizofrenia untuk mendobrak stigma yang melekat terhadap ODS maupun ODGJ. Dalam deskripsi tersebut juga termaktub nama sang pelukis, yakni Loster.
“Lukisan ini karya teman kami (Loster) yang disabilitas mental, skizofrenia. Kebetulan dia memang profesinya menggambar,” tutur Sudiasa.
Dupa Arusaji dijual seharga Rp15 ribu per bungkusnya, dengan satu bungkus terdiri atas 60 batang dupa.
PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Sanggaran, sebagai inisiator dari program tersebut, menyematkan nama “Skizopreneur” atau skizofrenia entrepreneur, yang merepresentasikan semangat penyintas skizofrenia untuk menjadi berdaya, mandiri secara ekonomi, dan mengikis stigma negatif ODS.