Meskipun satu bungkus dupa Arusaji dapat dikerjakan sendiri, Sudiasa menyampaikan ia bersama rekan-rekannya lebih suka mengerjakan seluruh prosesnya bersama-sama.
Bagi Sudiasa, yang terpenting adalah manfaat yang dirasakan oleh para ODS, seperti teralihkannya pikiran dari hal-hal negatif, melakukan kegiatan yang produktif, serta berangsur-angsur membangun kemandirian ekonomi maupun sosial.
Berbagai manfaat itu pula yang melatarbelakangi pilihan alat pencetak dupa yang manual ketimbang otomatis.
“Saya sangat senang dengan kegiatan ini, apalagi melihat teman-teman juga sudah mulai bisa mandiri, bisa bekerja walaupun kerja informal. Ya … sangat, sangat senang, sih. Berbahagia melihat teman-teman,” ujar Sudiasa.
Dari 27 warga penyandang disabilitas mental di Rumah Berdaya, Sudiasa menyampaikan hanya sekitar 10–12 orang yang kondisi mentalnya cukup stabil untuk ikut serta dalam kegiatan produksi.