NADIKABAR.COM — Pendar bara dupa dan liuk halus asap putih mengiringi doa-doa yang ditujukan ke angkasa, utamanya dalam persembahyangan yang digelar di Pulau Dewata. Tak dapat dipungkiri, tradisi di tanah Seribu Pura itu menyebabkan kehadiran dupa tak pernah luput dari keseharian warga Bali.

Ketika semerbak yang terbawa oleh angin biasanya beraroma cendana, dupa berjenama “Arusaji”, yang merupakan buah dari kolaborasi antara Rumah Berdaya Denpasar dengan PT Pertamina Patra Niaga, justru menghadirkan varian berbeda, yakni dupa dengan aroma kopi.

“Dengan fokus membuat dupa ini, ya, pikiran-pikiran yang aneh, yang liar-liar itulah, berkurang,” tutur I Nyoman Sudiasa (52), seorang penyintas skizofrenia atau gangguan mental berat yang melalui hari-harinya sebagai Koordinator Rumah Berdaya Denpasar.

Rumah Berdaya Denpasar merupakan lengan pemberdayaan rehabilitasi psikososial untuk orang dengan skizofrenia (ODS). Sementara itu, jenama “Arusaji” sesungguhnya merupakan akronim dari “Alumni Rumah Sakit Jiwa”.

Sudiasa lantas menunjukkan sebungkus dupa Arusaji dengan lukisan Dewi Shinta dan Hanoman yang tercetak di permukaannya.

Dewi Shinta dan Hanoman merupakan tokoh dalam kisah pewayangan Ramayana. Di balik bungkus dupa, terdapat penjelasan mengenai lukisan tersebut, yakni kisah pembebasan Dewi Shinta yang dikurung oleh Rahwana dalam sebuah taman kecil di Kerajaan Alengka.

Sudiasa menjelaskan lukisan tersebut memiliki relevansi dengan para penyintas skizofrenia di Rumah Berdaya, sebab orang dengan skizofrenia (ODS) ingin terbebas dari belenggu stigma masyarakat.

‘Kami para ODS ingin menunjukkan bahwa orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) juga mampu berkreativitas dan berkarya, sehingga dapat mengikis stigma yang ada’.

Demikian deskripsi yang tertulis di balik bungkus dupa Arusaji, yang menunjukkan semangat para penyintas skizofrenia untuk mendobrak stigma yang melekat terhadap ODS maupun ODGJ. Dalam deskripsi tersebut juga termaktub nama sang pelukis, yakni Loster.

“Lukisan ini karya teman kami (Loster) yang disabilitas mental, skizofrenia. Kebetulan dia memang profesinya menggambar,” tutur Sudiasa.

Dupa Arusaji dijual seharga Rp15 ribu per bungkusnya, dengan satu bungkus terdiri atas 60 batang dupa.

PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Sanggaran, sebagai inisiator dari program tersebut, menyematkan nama “Skizopreneur” atau skizofrenia entrepreneur, yang merepresentasikan semangat penyintas skizofrenia untuk menjadi berdaya, mandiri secara ekonomi, dan mengikis stigma negatif ODS.

Meskipun satu bungkus dupa Arusaji dapat dikerjakan sendiri, Sudiasa menyampaikan ia bersama rekan-rekannya lebih suka mengerjakan seluruh prosesnya bersama-sama.

Bagi Sudiasa, yang terpenting adalah manfaat yang dirasakan oleh para ODS, seperti teralihkannya pikiran dari hal-hal negatif, melakukan kegiatan yang produktif, serta berangsur-angsur membangun kemandirian ekonomi maupun sosial.

Berbagai manfaat itu pula yang melatarbelakangi pilihan alat pencetak dupa yang manual ketimbang otomatis.

“Saya sangat senang dengan kegiatan ini, apalagi melihat teman-teman juga sudah mulai bisa mandiri, bisa bekerja walaupun kerja informal. Ya … sangat, sangat senang, sih. Berbahagia melihat teman-teman,” ujar Sudiasa.

Dari 27 warga penyandang disabilitas mental di Rumah Berdaya, Sudiasa menyampaikan hanya sekitar 10–12 orang yang kondisi mentalnya cukup stabil untuk ikut serta dalam kegiatan produksi.