Program ini menyasar seluruh armada yang dioperasikan Pelni meliputi 26 kapal penumpang, 30 kapal perintis, sembilan kapal barang, satu kapal ternak, dan 17 kapal rede.

Ia menyebutkan peserta tidak hanya mencakup kapal sebagai unit operasional, tetapi juga nakhoda, perwira, serta seluruh awak kapal yang memiliki peran dalam penerapan keselamatan, pengendalian risiko, dan kelancaran operasional kapal.

Dalam pelaksanaannya, nakhoda menjadi pimpinan tertinggi di atas kapal yang bertanggung jawab terhadap implementasi keselamatan pelayaran dan penerapan International Safety Management (ISM) Code.

Sementara itu, perwira dan seluruh awak kapal menjalankan fungsi keselamatan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing, termasuk dalam kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, pengendalian risiko, serta pelaporan potensi bahaya di atas kapal.

"Pelaksanaan emergency response dan safety drill menjadi salah satu bagian penting dalam program ini," tutur Ditto.

Struktur tanggap darurat di kapal melibatkan nakhoda sebagai pimpinan, perwira dan awak kapal yang bertugas dalam pengendalian keadaan darurat, pemadaman kebakaran, pertolongan dan evakuasi, serta dukungan komunikasi dan operasional.

Pembagian peran tersebut bertujuan memastikan setiap awak memahami tugasnya dan dapat merespons kondisi darurat secara cepat dan terkoordinasi.

Melalui program tersebut, Pelni mendorong peningkatan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, penerapan International Safety Management (ISM) Code, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, serta partisipasi awak kapal dalam mengidentifikasi dan melaporkan potensi bahaya di lingkungan kerja.