Bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi sungai, surutnya Sungai Barito bukan sekadar perubahan pemandangan. Kondisi tersebut dapat berimbas pada kelancaran mobilitas, distribusi barang, hingga aktivitas ekonomi apabila berlangsung dalam waktu panjang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab Sungai Barito mengering. BMKG menyebut wilayah Kalteng tengah memasuki puncak musim kemarau.

"Kalau dari curah hujan, pada Dasarian I Agustus 2026 di Kalimantan Tengah memang curah hujannya kategori rendah (0-10 mm/Dasarian)," kata Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab.

Dia mengatakan wilayah Kalimantan Tengah secara umum mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori menengah (11 sampai 20 hari berturut-turut tanpa hujan) dan kategori sangat panjang (31 sampai 60 hari berturut-turut tanpa hujan).

"Saat ini, di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalteng memang dalam periode puncak musim kemarau," ucapnya.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengungkapkan fenomena surutnya Sungai Barito bukan sekadar perubahan bentang alam, melainkan dampak nyata dari kemarau ekstrem dan rendahnya curah hujan. Guswanto mengatakan fenomena tersebut membawa konsekuensi serius bagi transportasi, logistik, dan ekonomi regional.

Guswanto mengungkapkan kondisi Sungai Barito terkini. Dia menyebutkan Sungai Barito mengalami debit air turun drastis di Muara Teweh dengan ketinggian air hanya sekitar 0,6 meter dari normalnya mencapai 5-11,5 meter.