"Akibatnya, transportasi sungai hampir lumpuh," katanya.
Lebih lanjut, Guswanto mengatakan hamparan pasir muncul di bawah Jembatan Kalahien, Barito Selatan. Akibatnya, menurut dia, transportasi terganggu, seperti kapal besar, tongkang batubara, minyak, dan kayu, tidak bisa berlayar.
"Hanya perahu kecil seperti jukung yang masih bisa beroperasi terbatas," kata dia.
Guswanto menjelaskan sejumlah faktor penyebabnya. Faktor Sungai Barito mengering itu, sebutnya, lantaran kemarau panjang, curah hujan yang rendah dan fenomena regional.
"Penurunan curah hujan di Kalimantan Tengah membuat pasokan air dari hulu Pegunungan Schwaner berkurang drastis. (Dari fenomena regional) kondisi serupa juga terjadi di sungai lain di Kalimantan, menandakan pola iklim yang lebih ekstrem," jelasnya.
Guswanto mewanti-wanti ancaman jangka panjang dari fenomena tersebut. Menurutnya, jika tren berlanjut, bisa menurunkan kontribusi sektor pertambangan dan perkebunan terhadap PDB daerah.
"Ini adalah bagian dari siklus iklim yang lebih kering, dengan konsekuensi serius bagi transportasi, logistik, dan ekonomi regional," ujarnya.