NADIKABAR.COM — Pemerintah Indonesia telah memulai proyek listrik surya nasional berkapasitas 100 Giga Watt peak (GWp). Diresmikan pada Agustus lalu, program ini dimulai dengan 14 proyek surya berkapasitas total 5,3 GWp yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun ke depan.

Deputi Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, Yoga Adhi Pratama mengatakan pentingnya menerjemahkan ambisi nasional ini menjadi deretan proyek yang mudah dinilai oleh investor internasional. Hal ini disampaikan pada saat Indonesia Solar Investment Forum 2026 digelar dalam ajang Climate Week NYC, Konsulat Jenderal Republik Indonesia, New York.

Menurut Yoga, ambisi besar energi surya Indonesia harus disajikan sebagai rangkaian peluang yang jelas, lengkap dengan profil risiko serta skema komersial yang dapat diukur oleh investor.

"Promosi investasi dapat menjembatani investor internasional dengan pengembang proyek dan lembaga terkait untuk mengubah ketertarikan awal menjadi keputusan investasi yang matang. Inilah cara agar Indonesia dapat bersaing lebih efektif dalam memperebutkan modal transisi energi global," ujar Yoga dalam keterangannya, Minggu (27/9/2026).

Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari menjelaskan pencapaian target 100 GWp membutuhkan pendekatan baru dalam perencanaan infrastruktur. Strategi ini menggunakan pendekatan portofolio yang membuka seluruh opsi pembangunan. Hal ini mencakup proyek skala besar di atas tanah, panel surya terapung di waduk, instalasi atap komersial, hingga sistem kelistrikan pedesaan.

"Target sebesar ini mengharuskan sistem pelaksanaannya dirancang ulang. Kami melakukan hal tersebut dengan mengubah cara masyarakat mengakses energi surya. Dengan beralih ke platform tagihan tunggal melalui PLN dan membuka akses untuk gedung pemerintah serta pengguna rumah tangga, kami menghilangkan hambatan yang sebelumnya menahan laju pasar." ujar Mada.