Selain DEFA, pemerintah juga aktif mengawal tiga perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA)/Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) strategis yang akan diimplementasikan dalam waktu dekat. Ketiganya adalah Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Canada CEPA (I-CA CEPA), dan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA).
Berdasarkan analisis dampak FTA/CEPA, IEU-CEPA berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia hingga USD 10,9 miliar, I-CA CEPA sebesar USD 1,6 miliar, dan I-EAEU FTA mencapai USD 2,2 miliar hingga USD 2,89 miliar.
Setelah melalui proses intensif, perundingan IEU-CEPA kini memasuki tahap finalisasi teknis di Dewan Uni Eropa untuk menyongsong penandatanganan dan target implementasi penuh. Langkah ini diharapkan memperluas akses pasar ekspor manufaktur nasional, menghapus hambatan tarif, serta memperkuat rantai pasok global Indonesia.
"Menko Airlangga menargetkan proses ratifikasi IEU-CEPA dapat diselesaikan pada semester II 2026 sehingga implementasinya dapat dimulai pada awal 2027," ujar Juru Bicara (Jubir) Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).
Langkah strategis lainnya dilakukan melalui proses aksesi Indonesia menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memegang status calon anggota resmi (acceding country), Indonesia terus menerima dukungan penuh dari negara-negara anggota OECD untuk mempercepat penyelesaian Peta Jalan Aksesi (Accession Roadmap) menuju keanggotaan penuh pada 2028.
Pertumbuhan Ekosistem AI, Investasi Data Center, dan Kesiapan SDM Masa Depan