Sejalan dengan penguatan diplomasi global, pemerintah konsisten mendorong pemanfaatan teknologi tinggi sebagai mesin pertumbuhan baru (engine of growth). Indonesia mengukuhkan kepemimpinan digitalnya di tingkat global dengan resmi menjadi salah satu pendiri (founding member) World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) dalam rangkaian KTT WAIC di Shanghai, bersama perwakilan dari 30 negara.

Inisiatif ini menegaskan peran aktif Indonesia dalam menyusun tata kelola AI global yang aman, beretika, dan berpusat pada kedaulatan manusia.

"Outcome kecerdasan artifisial atau AI, bagi saya mencakup banyak bidang karena cakupan AI sangatlah luas. Bagi negara-negara seperti Indonesia, tentu saja penerapan AI dapat dimanfaatkan pada sektor pertanian (pertanian modern), transisi energi, dan kemudian untuk energi terbarukan, serta untuk mengembangkan banyak sektor digital termasuk di sektor kesehatan. Menko Airlangga meyakini saat ini ekonomi digital Indonesia bernilai USD130 miliar, dan kita sedang menuju USD300 miliar, di mana jumlah tersebut akan berlipat ganda dengan adanya AI," ungkap Haryo.

Pengembangan infrastruktur fisik tersebut diimbangi dengan penyiapan sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Pemerintah mengawal pemenuhan target kebutuhan 9 juta talenta digital nasional hingga 2030, atau 600 ribu talenta per tahun, melalui berbagai program pelatihan peningkatan keterampilan (upskilling) di bidang AI, data science, dan cybersecurity.

Lebih lanjut, pemerintah optimistis sinergi antara diplomasi ekonomi internasional yang agresif dan transformasi digital yang inklusif akan mampu menjaga ketahanan ekonomi nasional, memperluas lapangan kerja berkualitas, serta membawa Indonesia menuju status negara berpendapatan tinggi.

Kemenko Perekonomian berkomitmen untuk terus mengawal pelaksanaan seluruh agenda prioritas pemerintah secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.