NADIKABAR.COM β€” Pemerintah memetakan potensi peningkatan ekspor di empat pasar utama, yakni China, Amerika Serikat (AS), Jepang, dan India.

Hal itu ditempuh melalui identifikasi selisih antara nilai ekspor saat ini dan potensi ekspor yang dapat dikembangkan.

β€œPemerintah memandang perkembangan ini perlu direspons melalui penguatan strategi ekspor berbasis komoditas dan pasar," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

"Pendekatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi komoditas berkapasitas ekspor tinggi, memetakan kesenjangan antara ekspor Indonesia dengan kebutuhan impor negara mitra, serta mengurai hambatan yang dihadapi pelaku usaha,” tambahnya.

Berdasarkan hasil pemetaan, China memiliki potensi export gap sebesar 31 miliar dolar AS, terutama pada komoditas mineral dan logam beserta produknya, sumber daya mineral, mesin dan peralatan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, serta produk kimia.

Kemudian, potensi export gap di Amerika Serikat (AS) mencapai 14 miliar dolar AS, antara lain pada produk kendaraan, mineral dan logam, mesin dan peralatan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, serta produk kimia.

Sementara di Jepang, potensi export gap tercatat sebesar 5,5 miliar dolar AS dengan peluang utama pada produk mineral dan logam, hasil laut, produk nabati, serta bahan kimia.

Adapun di India, potensi export gap mencapai 10 miliar dolar AS, yang bersumber dari komoditas mineral dan logam, bahan kimia, mesin dan elektronik, serta produk nabati.

β€œPemetaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dilakukan melalui pencarian pasar baru, tetapi juga dengan memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor Indonesia,” tutur Menko Airlangga.

Untuk menangkap potensi tersebut, pemerintah akan mendorong penguatan ekspor berbasis komoditas dengan mempertemukan kapasitas produksi dalam negeri dan kebutuhan spesifik negara tujuan.

Pendekatan itu mencakup sektor pertambangan, pertanian dan perkebunan, perikanan, serta manufaktur.

Pemerintah juga memetakan potensi ekspor produk elektronik, teknologi, dan telekomunikasi.

Selain itu, lanjut Airlangga, pemerintah memperkuat koordinasi lintas K/L bersama pelaku usaha untuk mengatasi berbagai hambatan ekspor, mulai dari regulasi, standardisasi persyaratan pasar hingga kendala teknis di lapangan.

Menko berharap upaya itu dapat mendorong peningkatan nilai ekspor sekaligus memperkuat ekspor produk bernilai tambah dan diversifikasi komoditas Indonesia.

"Dengan pendekatan tersebut, optimalisasi pasar utama diharapkan tidak hanya dilakukan melalui peningkatan nilai ekspor secara agregat, tetapi juga melalui penguatan ekspor produk bernilai tambah dan diversifikasi komoditas, sehingga peluang pasar yang masih terbuka dapat dikonversi menjadi ekspor Indonesia yang lebih konkret,” tutup Airlangga.