NADIKABAR.COM β Pemerintah menargetkan produksi udang nasional mencapai 1,69 juta ton pada 2029 sesuai sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Mohamad Rahmat Mulianda di Jakarta, Kamis, mengatakan pencapaian target tersebut membutuhkan transformasi industri udang dari hulu hingga hilir.
βDalam dua sampai tiga tahun ini harus ada leverage baru. Masalah penyakit, masalah sistem budi daya two-step, tambak tradisional, dan marketing harus ada kebaruan,β ujar dia.
Menurut Rahmat, transformasi tersebut mencakup peningkatan produktivitas tambak, penguatan tata kelola kawasan budi daya, pengendalian penyakit, penerapan teknologi, serta penguatan pemasaran.
Ia mengatakan tambak tradisional perlu menjadi perhatian karena mencakup sekitar 82 persen dari luas tambak udang di Indonesia.
Penguatan infrastruktur, termasuk irigasi pertambakan, serta dukungan teknologi dan praktik budi daya berkelanjutan dinilai diperlukan untuk meningkatkan produktivitas tambak tersebut.
Di sisi lain, Rahmat menyebut pangsa pasar udang Indonesia saat ini sekitar 6 persen dari pasar global sehingga masih perlu ditingkatkan melalui penguatan produktivitas dan daya saing industri.
Bappenas mencatat perdagangan udang global terus tumbuh dengan volume ekspor mencapai 3,97 juta ton pada 2025.
Ekuador menjadi eksportir terbesar dengan volume 1,41 juta ton, disusul India 804,20 ribu ton dan Vietnam 335,28 ribu ton.
Sementara itu, ekspor udang Indonesia mencapai 218,87 ribu ton dengan nilai 1,87 miliar dolar AS pada 2025.
Adapun berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi udang vaname mencapai 786.382 ton dan udang jenis lainnya 57.758 ton pada 2024.
Dalam RPJMN 2026-2029, pemerintah juga menargetkan produksi perikanan budi daya mencapai 8,32 juta ton pada 2029.