NADIKABAR.COM — Pemerintah menarik utang baru sebesar Rp 494,3 triliun hingga September 2026 di tengah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit Rp 319 triliun. Penarikan utang ini setara 59,4% dari target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 832,2 triliun.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai pembiayaan utang ini tetap terjaga. Jika dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama, pembiayaan utang di tahun ini lebih rendah. Pada tahun lalu tercatat pembiayaan utang sebesar Rp 502,9 triliun atau 64,8% dari target APBN Rp 775,9 triliun.

"Pembiayaan utang terjaga on track," tutur Suahasil dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026) lalu.

Lebih rinci, utang baru itu berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 497,5 triliun atau 62,2% dari target APBN Rp 799,5 triliun. Kemudian, yang berasal dari pinjaman masih mencatatkan minus sebesar Rp 3,2 triliun.

"Jadi sudah 62,2%. Kita sangat memperhatikan kondisi pasar SBN dan juga kondisi ekonomi global di dunia," tambah Suahasil.

Suahasil memastikan penerbitan SBN dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan kondisi pasar. Sebab, menurutnya, pemerintah juga harus melihat peluang saat ingin menerbitkan SBN.