Berdasarkan ketiga jajak pendapat itu, koalisi sayap kanan dan religius Netanyahu diproyeksikan meraup total 50 kursi parlemen, sedangkan kubu oposisi diproyeksikan akan mengamankan total 52-56 kursi parlemen.
Partai-partai yang dipimpin oleh tokoh dan politisi keturunan Palestina, yang bisa menjadi pemecah kebuntuan, diproyeksikan meraup total 14-16 kursi parlemen.
Proyeksi jajak pendapat itu menunjukkan baik Netanyahu maupun Eisenkot tidak memiliki jalan yang jelas untuk mencapai ambang batas 61 kursi parlemen yang dibutuhkan untuk bisa membentuk pemerintahan. Memenangkan jumlah kursi parlemen terbanyak tidak secara otomatis menentukan siapa yang akan menjadi PM.
Presiden Israel Isaac Herzog akan berkonsultasi dengan partai-partai terpilih sebelum menugaskan pembentukan pemerintahan kepada anggota parlemen yang dianggap paling mampu menggalang dukungan mayoritas di parlemen.
Netanyahu Berjuang Demi Kelangsungan Karier Politiknya
Netanyahu berupaya meraih masa jabatan lagi setelah mejabat sebagai PM selama lebih dari 18 tahun dalam tiga periode terpisah. Kampanyenya sangat berfokus pada keamanan nasional, dengan dia menonjolkan pengalaman dan kebijakan militer sebagai hal krusial untuk menghadapi ancaman regional.
Namun Netanyahu menghadapi kritikan terkait kegagalan pemerintahannya dalam mencegah serangan Hamas 7 Oktober 2023, juga terkait cara menangani konflik yang menyusul setelahnya, serta penolakannya terhadap pembentukan komisi penyelidikan independen untuk mengusut kegagalan keamanan itu.
Dia juga tengah diadili atas rentetan tuduhan korupsi, yang telah dia bantah, dan menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait tuduhan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di Jalur Gaza.