"Hingga pukul 10.00 waktu setempat, lebih dari 1.200.000 warga Israel telah memberikan suara mereka. Tingkat partisipasi pemilih secara nasional mencapai 16,68 persen," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Komisi Pemilu Pusat Israel, Dean Livne, dalam pernyataan yang disiarkan televisi.

Pemungutan suara ini merupakan pemilu pertama di Israel sejak serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang diikuti oleh rentetan serangan tanpa henti militer Tel Aviv terhadap Jalur Gaza, juga konfrontasi militer dengan Hizbullah di Lebanon dan dengan Iran.

Ini juga menjadi pemilu pertama yang digelar tepat waktu di Israel sejak tahu 1988, setelah selama beberapa dekade pemerintahan yang berkuasa silih berganti runtuh sebelum menuntaskan masa jabatan selama empat tahun.

Kebijakan koalisi sayap kanan Netanyahu telah memicu perpecahan di dalam negeri dan semakin mengucilkan Israel di kancah internasional. Namun Netanyahu tetap membela rekam jejaknya dengan mengklaim dirinya sebagai satu-satunya pemimpin yang berani menghadapi musuh-musuh Israel.

Penantang utama Netanyahu, Gadi Eisenkot -- seorang mantan kepala staf militer Israel yang tenang namun berhaluan keras dalam masalah keamanan -- berupaya melengserkannya dengan dukung dari partai-partai sayap kanan dan tengah, serta sisa kelompok kiri yang terpinggirkan.