NADIKABAR.COM — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menggunakan hak suaranya lebih awal sebelum pemilu sela digelar pada Selasa (3/11) besok. Trump memberikan suaranya di negara bagian asalnya, Florida, pada Sabtu (24/10) waktu setempat.

Dalam pemilu sela tahun ini, Partai Republik yang menaungi Trump berjuang untuk mempertahankan kendali atas Kongres AS, yang terancam direbut oleh Partai Demokrat.

Trump dan istrinya, Melania, seperti dilansir AFP, Senin (2/11/2026), telah memberikan suara mereka untuk pemilu sela sebelum Presiden AS itu menghadiri acara kampanye di negara bagian Georgia.

Ketika berbicara kepada wartawan usai menggunakan hak suaranya di Florida, Trump mengatakan bahwa dirinya memberikan suara sesuai dengan garis partai, yang berarti dia memilih kandidat-kandidat dari Partai Republik saja.

Saat ditanya oleh wartawan soal korupsi sebagai isu utama bagi para pemilih AS, Trump bersikeras mengatakan bahwa hal tersebut justru terjadi di distrik-distrik dan kota-kota yang dikuasai oleh Partai Demokrat.

"Anda harus melihat korupsi yang sebenarnya -- itu adalah korupsi dari pihak Demokrat," sebutnya.

Trump, yang secara konsisten menolak untuk mengakui kekalahannya dalam pilpres tahun 2020 lalu, kerap melontarkan tuduhan tak berdasar mengenai kecurangan pemilih secara luas. Dia kembali melontarkan tuduhan serupa.

"Saya mencalonkan diri dan menang pada tahun 2016, dan saya juga menang pada tahun 2020, tetapi hasilnya tidak seperti itu," ucap Trump saat berbicara kepada wartawan di kantor Pengawas Pemilu Wilayah Palm Beach County di West Palm Beach.

"Itu adalah pemilu yang dicurangi, padahal saya menang dengan selisih jutaan suara," klaimnya.

Beberapa hari sebelum pemilu sela AS digelar, Trump dihadapkan pada hasil jajak pendapat yang suram, di mana Partai Republik diproyeksikan akan kehilangan kendali atas House of Representatives (DPR) dan kemungkinan besar juga Senat.

Tanpa mayoritas di Kongres AS, Presiden berusia 80 tahun itu akan memiliki ruang gerak yang sangat terbatas untuk mendorong agenda legislatifnya selama dua tahun terakhir masa jabatannya. Dia dan stafnya berpotensi diselidiki oleh Kongres jika nantinya Partai Demokrat memegang kendali mayoritas.

Partai Demokrat telah menyatakan keinginan mereka untuk memeriksa transaksi bisnis yang dilakukan Trump dan orang-orang terdekatnya sejak dia kembali menjabat di Gedung Putih.