Ketersediaan air tersebut dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan sejumlah sektor, terutama pertanian. Pengelolaan air menyasar areal tanaman padi seluas 19.059 hektare yang terdiri atas 16.021 hektare pada MT II dan 3.038 hektare pada MT III. Selain tanaman padi, pengelolaan air juga mencakup 5.314 hektare tanaman palawija dan 185 hektare tambak.
Khusus kebutuhan air baku di wilayah Bengawan Jero, suplai air diperoleh dari long storage Bengawan Solo. Berdasarkan kondisi ketersediaan air, kebutuhan irigasi di seluruh daerah irigasi (DI) Lamongan secara umum masih relatif mencukupi untuk mendukung tanaman padi, palawija dan tambak.
Yuhronur mengatakan Pemkab Lamongan akan terus memperkuat upaya mitigasi kekeringan melalui pembangunan dan revitalisasi infrastruktur sumber daya air. Sejumlah langkah yang disiapkan tim redaksi lain pembangunan embung, revitalisasi waduk hingga pengembangan biopori sebagai bagian dari konservasi air.
Namun, dia menegaskan masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Penanganan kekeringan di wilayah Sarirejo dan Tikung, misalnya, masih bersifat sementara.
"Target kerja harus kita pertajam. Penanganan kekeringan di Sarirejo dan Tikung ini masih bersifat penyelesaian sementara," ujarnya. Menurutnya, pengelolaan air secara berkelanjutan harus terus diperkuat agar kebutuhan air masyarakat maupun sektor pertanian dapat terlayani secara optimal.
Sementara, Kepala Dinas SDABK Lamongan Erwin Sulistya Pambudi mengatakan, pengelolaan sumber daya air menjadi bagian strategis dalam mendukung target pembangunan daerah, khususnya penguatan ketahanan pangan.