NADIKABAR.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagan Raya, Aceh mempercepat pemulihan penghidupan masyarakat terdampak bencana melalui rehabilitasi lahan persawahan, penyaluran alat dan mesin pertanian, serta pengusulan pembangunan kembali Jembatan Gunong Kong.
Langkah tersebut diarahkan agar petani dapat kembali berproduksi dan akses warga menuju permukiman maupun kebun segera pulih. Di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, pemerintah daerah mulai memproses kontrak kerja sama swakelola dengan kelompok tani untuk merehabilitasi 55 hektare sawah yang mengalami kerusakan ringan dan sedang. Pekerjaan tersebut mencakup pengupasan lahan serta pembangunan kembali pematang agar sawah dapat segera ditanami.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya, Marzuki mengatakan pelibatan kelompok tani mempercepat pemulihan lahan sekaligus memberikan penghasilan kepada masyarakat yang terdampak bencana.
"Untuk wilayah Beutong Ateuh, saat ini sedang diproses kontrak kerja sama swakelola dengan kelompok tani untuk rehabilitasi lahan sawah seluas 55 hektare yang rusak ringan hingga sedang," kata Marzuki dalam keterangannya, Kamis (8/10/2026).
Pemulihan turut diperkuat melalui penyaluran 17 unit traktor dan empat mesin perontok padi kepada kelompok tani di Beutong Ateuh Banggalang. Bantuan yang bersumber dari APBN melalui Kementerian Pertanian tersebut diharapkan mempercepat pengolahan lahan setelah pekerjaan rehabilitasi selesai.
Di sisi lain, Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan mengatakan bantuan alat dan mesin pertanian menjadi bagian dari pemulihan menyeluruh bagi wilayah terdampak.
"Penyaluran alat dan mesin pertanian ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah Beutong Ateuh Banggalang yang terdampak bencana," ujarnya.
Menurut Teuku Raja Keumangan, pemulihan pertanian perlu dipercepat karena sektor tersebut menopang ketersediaan pangan sekaligus pendapatan masyarakat.
"Pertanian tidak hanya berkaitan dengan penyediaan pangan, tetapi juga menjadi sumber mata pencaharian masyarakat dan penggerak perekonomian daerah," katanya.
Sementara itu, penanganan sawah rusak berat seluas sekitar 50 hektare masih membutuhkan dukungan pemerintah pusat. Biaya rehabilitasinya diperkirakan mencapai Rp300 juta per hektare sehingga pemerintah daerah mengusulkan agar pekerjaan tersebut dapat ditangani pada 2027. Rehabilitasi lahan terdampak juga berlangsung di Blang Baro Rambong, Kecamatan Beutong.
Selain sawah, konektivitas warga menjadi bagian penting dari pemulihan. Pemkab Nagan Raya telah mengusulkan anggaran sekitar Rp40 miliar untuk membangun kembali Jembatan Gunong Kong di Kecamatan Darul Makmur yang rusak akibat banjir bandang. Jembatan sepanjang sekitar 160 meter tersebut sedang diupayakan masuk dalam program Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh pada 2027.
Lebih lanjut, ketiadaan jembatan membuat warga masih mengandalkan rakit dari perahu berlapis pelat seng untuk menyeberangi sungai. Akses tersebut dibutuhkan sekitar 100 kepala keluarga di dusun setempat serta masyarakat lain yang memiliki kebun di seberang sungai.
"Harapan kita agar jembatan itu segera dibangun. Akses ini bukan cuma untuk warga yang tinggal di dusun itu, tetapi banyak warga Gunong Kong lainnya yang punya kebun di seberang. Jadi, moda transportasi ini sangat dibutuhkan," kata Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Nagan Raya, Hizbulwatan.