NADIKABAR.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat memperkuat kesadaran masyarakat terkait pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga hingga sekolah guna mendukung optimalisasi operasional tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS-3R) percontohan di Meruya Selatan, Kembangan.
Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah menyatakan bahwa kesiapan fasilitas pengolahan sampah skala komunal berteknologi ramah lingkungan harus diimbangi dengan kedisiplinan warga dalam memilah limbah sejak dari sumbernya.
"Sebelum TPS-3R percontohan resmi beroperasi, kami memastikan empat kelurahan di area cakupan pengolahan fasilitas ini telah menerapkan pemilahan sampah secara konsisten," kata Iin saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Dia mencatat tingkat kesadaran pengelolaan sampah di tingkat RW masih beragam.
"Sebagian RW sudah mampu melakukan pengelolaan mandiri dari pemilahan hingga pengolahan, sementara sebagian lainnya masih butuh pendampingan dan edukasi secara berjenjang dari dinas terkait, kecamatan, hingga kelurahan," kata Iin.
Menurut dia, pola edukasi ke depan harus bergeser dari sekadar penyampaian teori menjadi pemberian contoh konkret agar mudah dipahami oleh masyarakat umum.
"Sering kali edukasi hanya menyebut terminologi seperti sampah organik, tanpa contoh visual. Masyarakat akan lebih cepat paham jika dijelaskan langsung, seperti sisa makanan atau sampah daun untuk organik, serta wadah plastik untuk anorganik," ujarnya.
Ia menekankan bahwa penerapan pemilahan sampah mandiri tidak membutuhkan sarana yang mahal atau wadah khusus. Warga dapat memanfaatkan tempat penampungan alternatif yang sudah ada di rumah, seperti kaleng bekas, ember tak terpakai, atau wadah makanan lama.
Selain menyasar pemukiman padat penduduk, pengawasan juga difokuskan ke fasilitas pendidikan, seperti SDN Meruya Selatan 03 dan SMPN 206 Jakarta.
"Berdasarkan evaluasi di lapangan, sejumlah sekolah telah memisahkan tempat sampah, namun kerap kali limbah kembali tercampur di titik penampungan akhir," katanya.
Untuk mengatasinya, Pemkot Jakarta Barat mengimbau pihak sekolah membentuk tim pengawas lingkungan yang melibatkan siswa secara langsung guna menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap kebersihan sekolah.
Iin menegaskan, pelibatan kader PKK, Dasawisma, dan pengurus RT/RW sebagai manager wilayah dinilai menjadi kunci utama dalam mengubah perilaku masyarakat secara berkelanjutan.
"Tujuannya untuk mengurangi beban volume sampah yang masuk ke Tempat Penampungan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang," tuturnya.