NADIKABAR.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara mengajak generasi muda khususnya pemilih pemula yang terdiri dari 100 pelajar SMA yang ada di daerah itu untuk melek politik lewat kegiatan Peningkatan Etika dan Budaya Politik dalam Berdemokrasi Tahun 2026.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para pemilih pemula mengenai pentingnya etika, sikap bijak, serta tanggung jawab dalam berpartisipasi di kehidupan demokrasi,” kata Wakil Wali Kota Jakarta Utara, Fredy Setiawan, di Jakarta, Kamis.
Fredy menegaskan bahwa pemilu merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi yang memberikan kesempatan kepada setiap warga negara untuk menentukan arah bangsa.
Ia menilai bagi pemilih pemula, ini menjadi pengalaman pertama yang sangat penting. Jangan pernah menganggap satu suara itu tidak berarti.
“Setiap suara adalah bentuk partisipasi dalam menentukan masa depan bangsa,” ujarnya.
Ia mengingatkan para pelajar agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama di era media sosial saat ini. Menurut dia sikap kritis itu penting dan bijak dalam menerima informasi.
"Jangan mudah percaya pada hoaks, provokasi, atau ujaran kebencian. Gunakan media sosial secara bijak dan jadilah generasi yang mampu membedakan mana informasi yang benar dan menyesatkan,” tegasnya.
Fredy mengajak para peserta untuk menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam berdemokrasi. Perbedaan pilihan adalah hal yang wajar, namun persatuan tetap harus dijaga.
“Berbeda pilihan bukan alasan untuk bermusuhan. Demokrasi membutuhkan kedewasaan, dan persatuan adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.
Ia berharap melalui kegiatan ini dapat membentuk generasi muda Jakarta Utara yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran politik, integritas, serta sikap demokratis dalam kehidupan bermasyarakat
Sementara itu, Kepala Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jakarta Utara, M. Reza Phahlevi, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang diskusi sekaligus sarana mengukur pemahaman pelajar terhadap etika politik dan prinsip demokrasi.
Sasaran utama kegiatan ini adalah pelajar yang akan memasuki usia 17 tahun atau pemilih pemula agar mereka tidak hanya menggunakan hak pilih, tetapi juga memahami proses demokrasi secara utuh.
“Kami ingin generasi muda tidak sekadar datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) tetapi juga memahami makna di balik setiap proses demokrasi dan mampu menyikapi perbedaan dengan dewasa,” katanya.