Selain itu, kata dia kegiatan tersebut telah lama dilaksanakan secara turun temurun di Pariaman sehingga menjadi budaya yang dapat menjadi penggerak pariwisata daerah.

Oleh karena itu, lanjutnya Hoyak Tabuik harus kembali masuk KEN agar kegiatan tersebut tidak saja mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat namun juga membantu mempromosikan wisata daerah.

"Wisatawan banyak datang karena Tabuik, tentu mendatangkan perputaran uang serta meningkatkan pendapatan masyarakat," kata dia.

Pada 2024 Hoyak Tabuik Pariaman masuk ke dalam KEN, namun pada 2025 kegiatan budaya dan wisata itu tidak mendapatkan kesempatan karena berbagai faktor, kemudian kegiatan itu kembali masuk program strategis Kemenpar itu pada 2026.